Page

Saturday, April 20, 2013

Tahapan Pelarangan Riba Menurut Sayyid Quthb


Umumnya kaum muslim telah memahami bahwa Riba hukumnya haram, namun kebanyakan mereka berdalih dengan berbagai alasan karena memandang uang sebagai komoditi. Riba diharamkan karena sangat merusak pondasi perekonomian ummat. Namun, pengharaman riba diturunkan bertahap agar dapat mudah dipahami oleh umat.

Menurut Sayyid Quthb, tahapan pelarangan riba dibagi kedalam 5 tahap, sebagai berikut :

1. Alqur'an menolak anggapan manusia bahwa riba adalah demi menolong orang yang memerlukan dan perbuatan untuk mendekatkan diri pada Allah. Pada tahap ini, QS Ar-ruum ayat 39 turun sebagai peringatan bagi mereka bahwa riba bukan alat untuk menolong orang lain dan untuk mendekatkan diri pada Allah, melainkan zakat. 
"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar bertambah pada harta manusia maka riba tidak akan bertambah di sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai ridha Allah maka itulah orang yang melipatgandakan pahalanya. (QS Ar-ruum : 39)
2. Tahap kedua muncul sebagai peringatan terhadap orang-orang yahudi yang zalim. Mereka haramkan yang dihalalkan Allah dan halalkan yang diharamkan Allah. Sebagian dari apa yang mereka halalkan adalah riba. Allah pun mengharamkan apa yang dulu halal bagi mereka sebagai akibat atas kezaliman yang mereka lakukan.
"Maka karena kezhaliman orang-orang yahudi, Kami haramkan atas mereka yang baik-baik yang dulu dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allah. Dan karena mereka makan riba padahal mereka telah dilarang, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara yang batil, kami telah sediakan untuk orang kafir diantara mereka dengan siksa yang pedih" (QS An-nisa' :160-161)
3. Tahap ini adalah pada waktu turunnya surat Ali Imron ayat 130. Riba diharamkan karena dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Pada waktu itu, banyak orang-orang yang melakukan jual-beli dengan bunga yang tinggi pada jangka waktu tertentu. Jika telat membayar, maka bertambahlah bunganya.
"Hai orang-orang yang beriman, jangalah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung" (QS Ali Imron :130)
4. Pada tahap keempat, Allah dengan tegas mengharamkan jenis riba apapun pada pokok pinjaman. Tertulis jelas dalam surat Al-baqarah ayat 275-276
"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran penyakit gila. yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual-beli sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari tuhannya,lalu ia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah musnahkan riba dan suburkan sedekah,Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa." (Al-baqarah : 275-276)
5. Di tahap kelima,orang-orang yang tetap memakan sisa riba yang belum dipungut dan enggan meninggalkannya digolongkan sebagai orang yang tidak beriman
"Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang yang beriman, jika kamu tidak mengerjakannya maka ketahuilah Allah dan  Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertobat maka bagimu pokok hartamu. Kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya" (Al-baqarah : 278-279)

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by BloggerCandy.com