Page

Thursday, November 13, 2014

Bedah Buku "Api Tauhid"

Selasa pagi saya mendapat info dari teman bahwa ada Launching dan Bedah Buku Terbaru Karya Habiburrahman El-Shirazy yang berjudul "Api Tauhid". Seketika saya langsung bersemangat dan segera mendaftar lewat SMS. Habiburrahman El-Shirazy adalah salah satu novelis favorit saya. Beliau mampu membawa pembaca hanyut dalam alur cerita novel-novelnya. Terakhir kali saya melihat beliau secara langsung 2 tahun yang lalu saat ada seminar nasional di kampus.

 

Bedah buku ini bertempat  di Auditorium Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Depok. Sebelumnya diinfokan bahwa acaranya dimulai pukul 15.30. Saya bersama Herlin berangkat dari Bogor pukul 14.00. Sesampainya di UI pukul 16.00 dan Alhamdulillah acaranya belum dimulai. Kami masuk ke ruangan bersamaan dengan Kang  Abik (sapaan akrab Habiburrahman El-Shirazy) dan kami berada tepat dibelakang Kang Abik. Saking gembiranya, saya sampai mencubit Herlin. Duh, maaf ya lin senengnya ga kekontrol karena berada tepat dibelakang Kang Abik. Kalo bisa mah pengen selfie bareng beliau hehe, tapi acaranya sudah mau dimulai.

Dalam auditorium juga ada 100 ketua OSIS terpilih dari seluruh SMA se-Indonesia. Wah, saya sampai terkagum-kagum melihat semangat para ketua OSIS luar biasa ini. Apalagi pas ada sesi tanya jawab, mereka terlihat begitu bersemangat "saya kak, saya kak" ujar mereka kepada moderator agar dipilih untuk menjadi penanya. Ah, melihat semangat mereka dengan seragam putih abu-abu membuat saya semakin rindu masa-masa SMA :').

Para ketua osis luar biasa :D
Oke, kembali ke bedah buku "Api Tauhid", jadi novel ini adalah Novel Sejarah Pembangun Jiwa dan tentunya juga ada kisah cinta didalamnya. Tokohnya adalah Al 'Allamah Badiuzzaman Said Nursi yang mendapat julukan "Badiuzzaman" atau "Sang Keajaiban Zaman". Kang Abik sendiri telah mengenal tokoh ini sejak masih duduk di bangku kuliah S1 di Universitas Al Azhar, Kairo (sekitar tahun 1997). 

Kang Abik juga menjelaskan bahwa dengan menulis kita akan menjadi dikenal dan banyak manfaat yang akan diperoleh dari menulis. Selain itu, ada motivasi yang diberikan oleh Kang Abik dari pemaparannya.

"Berawal dari kata perubahan besar bisa terjadi, berawal dari kata peristiwa-peristiwa besar hadir dalam sejarah"

Banyak pemimpin dan tokoh dunia yang juga menulis seperti Bung Karno, Bung Hatta, Barack Obama dan tokoh dunia lainnya. Contohnya saja Bung Karno yang dikenal sebagai orator dan penulis ulung sejak usia muda. Bahkan di usia 25 tahun, Bung Karno telah aktif menulis di koran dan majalah. Di usia yang masih muda itu juga Bung Karno telah menuangkan gagasannya mengenai "bangsa dan Islam".

Salah satu ungkapan yang melekat dalam benak saya pada acara bedah buku sore itu adalah "jika kamu ingin menulis, tulis, dan teruslah menulis" (Roland Fishman). Usai acara , saya dan Herlin langsung membeli novel ini. Aaa, seneng banget bisa memiliki karya terbaru Habiburrahman El-Shirazy.
Eh iya, ditunggu kang kelanjutan novel Ayat-Ayat Cinta dan Bumi Cinta-nya. hehe
 ----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Nah, ini ada sinopsis "Api Tauhid" yang saya copy dari goodreads

Ini adalah novel roman dan sejarah. Novel roman yang bercerita seputar perjuangan anak muda asal Lumajang, Jawa Timur, yang bernama Fahmi. Ia dan beberapa rekannya seperti Ali, Hamza, dan Subki, menuntut ilmu di Universitas Islam Madinah.

Dalam perjalanannya, Fahmi harus menghadapi situasi yang cukup pelik, dalam urusan rumah tangga. Fahmi pun galau. Semua persoalan yang dialaminya itu, tak pernah ia ungkapkan dengan teman-temannya.

Kegalauannya itu ia tumpahkan dengan cara beri’tikaf di Masjid Nabawi, Madinah, selama 40 hari untuk mengkhatamkan hafalan Al-Qur`an sebanyak 40 kali. Sayangnya, upayanya itu hanya mampu dijalani selama 12 hari. Memasuki hari-hari berikutnya, Fahmi pingsan. Ia tak sadarkan diri, hingga harus dibawa ke rumah sakit.

Sahabat-sahabatnya khawatir dengan kondisinya yang pemurung dan tidak seceria dulu. Hamza, temannya yang berasal dari Turki, mengajak Fahmi untuk berlibur ke Turki. Hamza berharap, Fahmi bisa melupakan masa-masa galaunya selama di Turki nanti.

Untuk itulah, Hamza mengajak Fahmi menelusuri jejak perjuangan Said Nursi, seorang ulama besar asal Desa Nurs. Ulama terkemuka ini, dikenal memiliki reputasi yang mengagumkan.

Syaikh Said Nursi, sudah mampu menghafal 80 kitab karya ulama klasik pada saat usianya baru menginjak 15 tahun. Tak hanya itu, Said Nursi hanya membutuhkan waktu dua hari untuk menghafal Al-Qur`an. Sungguh mengagumkan. Karena kemampuannya itu, sang guru, Muhammed Emin Efendi memberinya julukan ‘Badiuzzaman’ (Keajaiban Zaman).

Keistimewaan Said Nursi, membuat iri teman-teman dan saudaranya. Ia pun dimusuhi. Namun, Said Nursi pantang menyerah. Semua diladeni dengan berani dan lapang dada. Tak cuma itu, rekan-rekan dan saudara-saudaranya yang iri dan cemburu akan kemampuannya, para ulama besar pun merasa terancam. Keberadaan Said Nursi membuat umat berpaling. Mereka mengidolakan Said Nursi.

Pemerintah Turki pun merasa khawatir. Sebab, Said Nursi selalu mampu menghadapi tantangan dari orang-orang yang memusuhinya. Ia selalu mengalahkan mereka dalam berdebat.

Tak kurang akal, pejabat pemerintah pun diam-diam berusaha menyingkirkannya. Baik dengan cara mengusirnya ke daerah terpencil, maupun memenjarakannya. Ia pun harus berhadapan dengan Sultan Hamid II hingga Mustafa Kemal Attaturk, pada masa awal Perang Dunia I.

Selama 25 tahun berada di penjara, Said Nursi bukannya bersedih, ia malah bangga. Karena disitulah, ia menemukan cahaya abadi ilahi. Ia menemukan Api Tauhid. Dan melalui pengajian-pengajian yang diajarkannya, baik di masjid maupun di penjara, murid-muridnya selalu menyebarluaskannya kepada khalayak. Baik dengan cara menulis ulang pesan-pesan Said Nursi, maupun memperbanyak risalah dakwahnya. Murid-muridnya berhasil merangkum pesan dakwah Said Nursi itu dengan judul Risalah Nur. Murid-muridnya tidak ingin, Api Tauhid yang dikobarkan Said Nursi berakhir.


Bagaimana dengan Fahmi? Perjalanan ke Turki membawa Fahmi berkenalan dengan gadis setempat, Emel, adik Hamza, dan Aysel, saudara sepupu Hamza. Kemampuan Fahmi dalam menyikapi segala sesuatu, membuat Aysel jatuh hati. Aysel menyatakan cintanya pada Fahmi.

Bagaimana dengan Emel? Lalu bagaimana kisah cinta Fahmi dengan Nuzula? Semuanya ada dalam buku Api Tauhid, karya Habiburrahman El-Shirazy, novelis nomor satu di Indonesia, ini
.

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by BloggerCandy.com