Page

Friday, June 2, 2017

Jarak



Dunia perantauan sudah saya jalani semenjak tahun 2011, di usia yang masih 17 tahun saya harus berani mengambil konsekuensi dari keputusan untuk menempuh pendidikan yang jauh dari tanah kelahiran (masih Indonesia ah ca, lebay wkwk). 
Hingga sekarangpun saya masih “terjebak” dalam dunia perantauan (sudah 6 tahun wow!). Time flies so fast ya :’)... Sudah banyak suka duka selama merantau, mulai dari perkuliahan hingga dunia kerja. Tapi apapun itu, itulah kehidupan...Saya menikmati dan mensyukurinya. Karena saya yakin, segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita pasti ada hikmah dibalik itu semua.  Sungguh hambar bukan rasanya hidup tanpa ada rasa nano-nano alias manis asem asin? hehe...


Memang sedih sih kalau sudah rindu keluarga alias “homesick”. Apalagi jika sudah rindu dengan masakan ibu, rindu bercengkrama dengan adek-adek, rindu  ponakan yang unyu-unyu, rindu dengan teman-teman semasa sekolah, rindu dengan udara sejuk tanah kelahiran, dan banyak rindu lainnya :) 


Ketika rindu itu bergejolak, saya bergumam “Ah, rindu ini masih bisa terobati dengan telponan dengan ayah ibu, masih bisa terobati dengan berkirim foto dengan adek-adek & masih bisa terobati lewat do’a-do’a yang dipanjatkan seusai sholat” ^_^

 Apalagi syair Imam Asy-Syafii ini selalu membangkitkan semangat saya di perantauan 


Merantaulah
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang).

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku
melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa
jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.

‎Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Biji emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika biji memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.
duh, selalu adem kalo udah baca sya'ir ini :) "Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang". Masih banyak impian yang belum tercapai, semangat untuk menggapainyaaa !!! :)
 
Sekian saja tulisan saya kali ini...

Ada banyak kebahagiaan di tempat kamu berpijak sekarang, lalu kenapa bersedih kala jarak memisahkan? :)
laa tahzan innallaha ma'ana 

Jakarta, 02 Juni 2017

 


0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by BloggerCandy.com